Wanita Suku Leher Panjang di Thailand Utara

suku leher panjang

Di Indonesia kita kenal dengan suku Dayak Kenyah dari Kalimantan yang terkenal karena keunikannya. Suku ini punya ciri khas telinga yang panjang dengan banyak anting. Ternyata selain suku Dayak Kenyah ini, masih ada loh suku lain yang terkenal karena ciri khasnya yang unik tapi juga sedikit mengerikan. Salah satu suku unik tersebut adalah suku Karen dari Thailand Utara, lebih tepatnya di provinsi Chiang Rai. Wanita suku Karen ini memiliki ciri khas leher yang memanjang. Waw, kok bisa ya lehernya jadi sepanjang itu?

Asal –usul Suku Leher Panjang

Berbekal rasa penasaran, saya pun mengunjungi suku yang sudah sering diliput banyak stasiun TV ini. Ternyata tidak hanya suku Karen saja yang tinggal disini, tetapi ada juga beberapa suku lain seperti suku Akha, suku Lisu dan sebagainya. Suku Karen dianggap paling unik karena mempunyai ciri khas gelang besi di lehernya. Suku Karen dan suku lainnya adalah suku yang mengungsi dari pedalaman Myanmar. Aslinya mereka tinggal di hutan-hutan pedalaman Myanmar. Namun saat perang saudara berkecamuk di Myanmar, mereka akhirnya terpaksa mengungsi ke Thailand utara.

Suku ini hidup tanpa identitas di Thailand, sehingga mereka tidak bisa bersekolah atau bekerja di kantor. Biaya hidup mereka sehari-hari sebagian didapatkan dari kunjungan wisatawan. Sebagian lainnya dari hasil berburu di hutan-hutan. Kalau kita mau masuk ke desa mereka, kita harus membayar tiket masuk 300 Baht atau sekitar 109.000 rupiah. Bagi wisatawan yang ingin berfoto, dianjurkan membeli souvenir-souvenir atau kain tenun yang mereka jual. Saran saya, kalau pergi rame-rame ke kampung ini belanjanya menyebar ya, biar penghasilan mereka terbagi rata juga. Berwisata sekalian beramal :D.

Pintu masuk ke perkampungan suku Karen

Pintu masuk ke perkampungan suku Karen

Suasana perkampungan suku Karen

Suasana perkampungan suku Karen

Tradisi dan Kepercayaan  Suku Leher Panjang

Masuk ke desa Karen, kita akan diajak melihat museum hidup. Wanita-wanita suku Karen (seperti) dipaksa mempertahankan tradisinya di tengah kehidupan yang modern sekarang ini. Tradisi ini wajib mereka lakukan, karena kalau tradisi ini hilang mereka juga akan kehilangan sumber penghasilan. Waktu saya berkunjung kesana, saya hanya bertemu dengan anak-anak dan wanita suku Karen saja. Ketika saya tanya, laki-laki suku Karen pergi berburu ke hutan di siang hari dan kembali waktu malam.

Semua wanita suku Karen wajib memakai gelang besi di lehernya. Gelang besi itu mereka pakai sejak umur 5 tahun sampai mereka meninggal. Awalnya mereka akan diberi 2-3 tumpuk gelang, kemudian setiap 2-3 tahun sekali ditambahkan lagi sampai mereka berumur 19 tahun. Saat mereka berumur 19 tahun, gelang-gelang tersebut akan diganti dengan gelang besi yang terbuat dari 1 besi lonjor panjang. Gelang tersebut berbentuk melingkar atau dililitkan pada leher mereka.

Gelang Suku Leher Panjang

Gelangnya berat juga ya !

Suku Leher Panjang

Memakai gelang imitasi, hasilnya saya susah senyum :p

Calon wanita suku Karen masa depan

Calon wanita suku Karen masa depan

Gelang itu harus mereka pakai saat melakukan semua kegiatan seperti mencuci, tidur, memasak, menenun dan tidak boleh dilepas sama sekali. Mereka hanya boleh melepas gelang itu saat mereka menikah, melahirkan dan meninggal dunia. Gelang itu berat sekali loh, untuk wanita dewasa rata-rata berat gelangnya bisa mencapai 5 Kg. Itu belum ditambah dengan gelang di kaki mereka seberat 1 Kg. Jadi setiap harinya mereka membawa beban 7 Kg. Wah, gimana ya mereka bisa tetap beraktivitas dengan beban seberat itu? Saya sendiri kemarin mencoba imitasi gelang tersebut dan hasilnya, saya susah senyum! hehe

Karena beban seberat itu , tulang selangka, tulang bahu, dan tulang rusuk mereka jadi turun. Itulah yang menyebabkan leher mereka terlihat panjang. Semakin panjang mereka akan merasa semakin cantik dan semakin mirip dengan burung Phoenix, nenek moyang mereka. Menurut kepercayaan, nenek moyang wanita suku Karen adalah burung Phoenix yang berpasangan dengan seekor naga. Seekor naga tersebut juga dipercaya sebagai nenek moyang laki-laki suku Karen. Saya jadi membayangkan kisah cinta burung Phoenix dan Naga, romantis kali ya?hihihi

Bahaya Leher Panjang

Kegiatan sehari-hari wanita suku Karen

Kegiatan sehari-hari wanita suku Karen

Tapi bukan tanpa resiko mereka memakai gelang seberat itu. Beban tersebut dipercaya bisa merusak struktur tulang wanita suku Karen. Semakin tua maka akan semakin beresiko, sehingga kebanyakan wanita suku Karen hanya hidup sampai umur 45-50 tahun saja. Sejarah lain menyebutkan kalau gelang tersebut berfungsi sebagai pelindung binatang buas. Dulu saat mereka masih tinggal di pegunungan, banyak binatang buas yang sering menyerang wanita Karen. Umumnya binatang buas tersebut menyerang leher atau tenggorokan mereka. Karena itulah gelang tersebut berfungsi sebagai pelindung dari gigitan binatang buas.

Souvenir dan tenunan yang dijual oleh suku Karen

Souvenir dan tenunan yang dijual oleh suku Karen

Gimana, tertarik melihat langsung keunikan suku Karen? Kalian bisa mengikuti tur travel yang ada di Chiang Mai atau di Chiang Rai.  Hampir semua tur travel menawarkan kunjungan ke perkampungan suku Karen. Kalau mau pergi ala backpacker juga bisa, tapi transportasi umumnya agak susah. Alternatif lainnya kalian bisa mengunjungi perkampungan suku Karen yang dekat dengan kota Chiang Mai. Kekurangannya perkampungan tersebut sudah disulap jadi desa wisata, sehingga suasana suku Karennya sudah agak hilang. Besok akan saya posting tentang tur travel di Chiang Mai, ikuti terus petualangan saya ya!

Referensi bacaan :
http://christinapandu.blogspot.com/2014/03/mengenal-kebudayaan-suku-karen-thailand.html

http://suku-dunia.blogspot.com/2014/08/sejarah-suku-karen-di-thailand.html

4 Responses to “Wanita Suku Leher Panjang di Thailand Utara”
  1. Putri Tresnasari November 10, 2015
    • Nenk Phytlee November 12, 2015
  2. Jena March 16, 2017
  3. alia February 15, 2018

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.