Mengunjungi Cao Dai Temple dan Chu Chi Tunnels di Vietnam

Sebenernya ini akhir dari rangkaian cerita backpacking Indochina kemarin, tapi berhubung kemaren uda males-malesan nulisnya jadilah gak ketulis dan baru bisa ditulis sekarang, padahal ceritnya setahun lahu *fyuh. Hari terakhir backpacking Indochina saya adalah mengunjungi kota Ho Chi Minh (HCM) di Vietnam, tapi waktu saya cuma sehari, jadilah saya harus milih-milih tempat wisata yang mau saya kunjungi. Saya sampai di HCM sekitar jam 12 an, habis itu saya pake istirahat dan sorenya menikmati suasana di Vietnam. Besoknya baru deh mengunjungi tempat wisata di HCM.

Saya memutuskan untuk memakai tur travel aja, kenapa? Hemat waktu lah dan saya nya juga uda kecapekan haha. Saya mengambil full day tour ke Cao Dai Temple dan Cu Chi Tunnels. Hasil dari browsing-browsing katanya itu yang terkenal dari HCM. Oke lah gak papa, lagian saya juga sendirian travel partner saya lagi ngendog di hotel -_-.

Jam 6 pagi saya udah keluar dari hotel, sengaja berangkat pagi sekalian mau cari sarapan dan biar gak terlambat. Malu ah kalau orang Indonesia terlambat hehe. Jam 7 kurang 10 menit saya udah duduk manis di agen dan jam 7 pas saya di jemput sama tur guide-nya untuk naik bis yang akan berangkat kesana. Sampai di bis baru saya yang dateng, jadi saya bisa milih tempat duduk sendiri. Setengah jam kemudian bis penuh dan kami pun berangkat, e tapi cuma saya yang berjilbab sendiri. Jadilah saya diliatin sama turis lain *pasangmukabadak.

Di dalam bis, tour guide bernama Mr.Bonh mulai menjelaskan tentang sejarah Vietnam dengan bahasa Inggris yang rada gak jelas, jadi saya harus ekstra ngedengerinnya. Dari ceritanya jelas banget kalau dia itu BENCI sama Amerika, kerjaannya jelek-jelekin Amerika mulu, padahal ada turis Amerika disitu haha. Sebelum nyampe ke tempat wisata-nya kami mampir dulu ke Galeri Handicapped Handicrafts. Galeri itu semacam toko kerajinan tangan hasil karya dari penyandang difabilitas di Vietnam yang sebagian besar korban dari perang Vietnam dulu. Ternyata dampak dari perang Vietnam sekitar tahun 1970-an dulu masih kerasa sampai sekarang, sebagian besar penduduk Vietnam mengalami cacat fisik, termasuk bayi-bayi yang lahir saat itu. Astaghfirullah ngeriiiiiii ya, Alhamdulillah taun segitu Indonesia udah merdeka.

Cao Dai Temple

[sociallocker]Selesai mampir di Galeri Handicapped Handicrafts, kami berangkat ke Cao Dai Temple. Menurut penjelasan dari tur guide-nya Cao Dai Temple adalah tempat ibadah dari aliran Caodaism, yaitu aliran baru yang menggabungkan berbagai agama di dunia mulai dari Hindu, Buddha, Kristen termasuk Islam. Kami sampai disana jam 12, bertepatan dengan waktu ibadah mereka.

Dari pintu gerbang, terlihat lah kuil besar yang cantik banget, jadi keinget sama film Kera Sakti hihi. Kita boleh masuk kesana tapi harus lepas alas kaki. Waktu saya mau masuk, si penjaga nunjuk-nunjuk kepala saya. Saya sih tau maksudnya, dia nyuruh saya lepas jilbab. Saya pura-pura gak paham aja, lagian dia juga gak ngomong cuma pake bahasa isyarat, jadilah saya ngeloyor masuk haha. Nyampe dalem kita cuma disuruh liat tata cara beribadah mereka yang (katanya) unik. Mungkin karena di Indonesia saya kebanyakan liat aliran sesat dengan cara ibadah yang macem-macem, menurut saya sih biasa-biasa aja wkwkw. Ya, tapi tetep saya liat lah, masa jauh-jauh nyampe kesitu cuma bengong. Dan akhirnya badan saya pun kegencet-gencet badan bule yang gede-gede demi ngeliat ibadah Caodaism.

Bagian pinggir kuil Cao Dai

Saat umat Cao Dai beribadah

Cuma setengah jam saya disitu, habis jeprat jepret seadanya saya memutuskan untuk kembali ke bis. Saya jalan santai ke bis, lewat tempat saya datang tadi. Tiba-tiba saya ditegur sama penjaga kuil, katanya kalau mau pulang saya harus muter ke arah belakang kuil, gak boleh lewat arah yang sama pas saya datang tadi. OMG, panas-panas gini harus muterin kuil yang gede itu? Ya sudahlah, mau gimana lagi, tetep dong saya harus menghormati mereka. Ambil hikmahnya aja, saya bisa bakar lemak siang-siang.

Puas keliling Cao Dai Temple, kami pun melanjutkan perjalanan ke Chu Chi Tunnel. Ternyata perjalanan dari Chao Dai Temple ke Chu Chi Tunnels lama banget, mungkin sekitar 2 jam an. Di tengah-tengah perjalanan, kami mampir rumah makan yang gak ada label halalnya. Tour guide-nya minta maaf sama saya, katanya gak ada halal food di restaurant ini. Saya cuma bilang sambil senyum “It’s ok, I’m fine” padahal sebenernya “I’m not fine at all!”. Perut udah keroncongan karena tadi pagi cuma sarapan roti+susu Waduuuuuuh, luaper buangeeeeet, lemes rasanya. akhirnya saya tanya ada vegetarian food gak? Dia jawab ada, saya pun dikasih nasi dan rebusan sayur. Gak papa deh, lumayan buat ganjel perut, ada untungnya saya jadi orang Sunda yang biasa makan sayur mentah hehe.

Makan siang saya di temenin sama bule dari Amerika yang tadi sempet ngobrol di Cao Dai Temple, dia tanya apa saya gak papa makan kaya gitu? Aduh om, ini makanan dari kecil kaleee. Dia cerita kalau kemaren sempet main ke Indonesia dan berasa jadi artis dadakan, soalnya dimintain foto bareng terus *huahahaha. Dia juga sering banget jadi target wawancara dengan pertanyaan yang sama

“What’s your name..?”
“What’s your hobby..?”
“What do you like from Indonesia..?”
“What’s your favorite food in Indonesia..?”

*Dulu saya juga gitu kali om haha.

Kami cerita panjang lebar, begitu dia udah puas cerita saya pamit ke bis duluan, ceritanya saya mau shalat dulu sebelum yang lain naik ke bis. Saya gak mau dong jadi tontonan kaya di Cao Dai Temple tadi hihi.

Chu Chi Tunnels

Suasana di area Chu Chi Tunnels

Akhirnya setelah perjalanan panjang nyampe juga di Chu Chi Tunnels, sebelum masuk kami harus bayar tiket masuk seharga 110.000 Dong. Suasana di area Chu Chi Tunnels, seperti suasana di hutan bambu dengan banyak rumah-rumah kecil beratap jerami, juga ditambah desingan-desingan peluru *lumayan deg-deg an lah takut kena peluru nyasar*. Mr. Bonh menjelaskan kalau di dalam tanah yang sedang kami injak sekarang ini ada ratusan labirin terowongan yang dulu dibuat oleh tentara Vietnam untuk melawan Amerika. Rumah-rumah beratap jerami yang dari tadi kami lihat itu sebagai penanda jalan masuk ke terowongannya.

Selanjutnya kami langsung di ajak ke semacam ruang perkenalan tentang Chu Chi Tunnels, disana kami diputarkan video tentang perang Vietnam, kemudian Mr. Bonh juga menjelaskan asal muasal terowongan itu dibuat, bagaimana sirkulasi udaranya, pembagian ruangnya dll. Mr. Bonh juga mengaku kalau dia ikut membuat terowongan tersebut. “You must believe me!” katanya di akhir cerita.

Menonton sejarah Chu Chi Tunnels

Sebelum lanjut, saya ceritakan sejarah Chu Chi Tunnels secara singkat ya. Chu Chi Tunnels adalah terowongan yang dibangun oleh tentara Vietnam saat Amerika menginvasi Vietnam pada tahun 1969-1972. Terowongan ini dibangun dengan panjang 121 KM dengan jalur meliuk-liuk seperti labirin dan kedalaman sekitar 3, 6, 8 meter dari permukaan tanah. Fungsi dari terowongan ini adalah untuk berlindung dari bom-bom massive tentara Amerika. Terowongan ini digali dengan peralatan seadanya (kadang-kadang dengan tangan saja) agar tidak ketahuan oleh tentara Amerika.

Selesai menonton video, kami di ajak untuk melihat-lihat ke area Chu Chi Tunnels yang lain. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah jalan masuk salah satu terowongan. Lebarnya kecil sekali dan hanya cukup untuk orang-orang berbadan langsing (kaya saya haha). Kata Mr.Bonh tentara Vietnam sengaja membuat terowongan yang cukup dengan seukuran badan orang Vietnam saja, agar tentara Amerika yang berbadan besar tidak bisa masuk terowongan.

Serius ngedengerin Mr.Bonh

Jalan masuk ke salah satu terowongan

Perjalanan kami lanjutkan melihat jebakan batman alias ranjau darat yang digunakan tentara Vietnam untuk menjebak tentara Amerika. Mr. Bonh juga mewanti-wanti agar kita berhati-hati karena masih banyak ranjau yang belum di temukan disini. “You must believe me!” Katanya lagi. Setelah berkeliling melihat berbagai macam ranjau dan cerita-cerita Chu Chi Tunnels lainnya, kami rehat sebentar di area tembak. Jadi suara tembakan yang saya dengar dari tadi itu berasal dari sini. Saya ditawari oleh Om Amerika untuk ikut menembak bareng, gratisan vroh haha. Saya sih mau-mau aja, mumpung ada kesempatan hihi. Ternyata menembak itu berat di tangan, pundak dan hati. Waktu mau menembak saya rasanya gak tega karena ini kan peluru yang bisa melukai orang *baper*.

Salah satu jebakan tentara Vietnam, ini saat ditutup

Ini waktu dibuka

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Diorama tentara wanita Vietnam

Acara istirahat selesai, acara terakhir dari tur kami adalah mencoba masuk ke dalam terowongan. Ibu hamil, orang yang punya penyakit asma, jantung dilarang masuk terowongan ini. Mr. Bonh hanya memperbolehkan kami turun ke dalam terowongan sampai tingkat 3 saja, karena kalau sudah ke tingkat 4 agak berbahaya (ada 7 tingkat terowongan). Kami masuk ke dalam terowongan yang sempit, kecil dan cukup untuk 1 badan saja. Kami pun harus merangkak, suasana terowongan yang remang-remang membuat kami jadi susah mencari jalan. Saat masih di tingkat 1, saya masih bisa bernapas, tapi begitu masuk ke tingkat 2 dan 3 saya sudah tidak kuta bernapas dan segera keluar lewat jalan pintas. Ya ampuun gak kebayang tentara Vietnam dulu, mereka harus hidup di tempat yang sempit dan kecil itu. Keluar dari terowongan baju saya basah karena keringat, fyuuuuh.

Saatnya bertualang masuk ke terowongan

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Masuk ke tingkat 2

Jalan-jalan di Chu Chi Tunnels, selesai juga, kami pun segera naik bis untuk kembali ke kota Ho Chi Minh. Badan saya rasanya pegal sekali dan saya pun langsung tertidur di bis. Selamat tinggal Chu Chi Tunnels, terimakasih untuk sejarah yang mengagumkan![/sociallocker]

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.