Cat-Per Backpacking Thailand #Part 3 : Sehari di Chiang Rai dan Laos

Masih tentang cerita backpacking saya ke Chiang Mai, di hari kedua ini kami akan mengunjungi kota Chiang Rai, kota paling utara dari Thailand dan berbatasan langsung dengan Laos dan Myanmar. Untuk tur kali ini kami menggunakan jasa tour travel, alasannya yang pertama untuk menyingkat waktu dan yang kedua tempat-tempat yang akan kami kunjungi jaraknya berjauhan dan agak susah nyari transportasi umum. Untuk review tentang tur travel yang saya pakai silahkan baca disini 

Karena destinasi wisata kami letaknya di luar kota Chiang Rai, jadi saya tidak bisa melihat langsung seperti apa kota Chiang Rai. Katanya sih lebih modern dari Chiang Mai, ya semoga suatu saat nanti ada kesempatan menjelajah kota Chiang Rai hehe. Destinasi kami hari ini adalah ke Hot Spring, White Temple (Wat Rong Khun), Long Neck Karen Tribe Village, Mekong River dan Laos, dan yang terakhir adalah perbatasan Myanmar-Thailand. Yuk kita bahas satu-satu hehe.

IMG_20141006_093054

Welcome Hot Spring Water yang cuma seucrit ini :p

Destinasi yang pertama adalah Hot Spring Water, kalau mendengar kata “Hot Spring Water” apa yang ada di pikiran kita? Pastinya sumber air panas dimana kita bisa relax dan santai sambil merendam kaki kita, tapi jangan berharap lebih! Soalnya Spring Water yang saya kunjungi ini cuma mata air kecil yang mengeluarkan air panas terus di belakangnya ada tulisan Chiang Rai Hot Spring Water. Selebihnya, seperti rest area, kita bisa makan, minum atau ke toilet. Tour guide kami hanya memberikan waktu sekitar 15 menit disini. Oh ya, kalau pingin nyoba air panasnya bisa pergi ke toilet, soalnya airnya panas hehe.

Destinasi selanjutnya adalah Wat Rong Khun atau White Temple, dinamakan White Temple karena bangunannya berwarna putih semua. Sedangkan kata Rong Khun diambil dari nama daerahnya. Wat Rong Khun ini dibangun oleh seorang pelukis asal Thailand untuk menunjukkan kecintaannya pada Buddha.

IMG_20141006_112439

Saya sempat terkagum melihat keindahan White Temple ini, bener apa yang saya baca di blog, serasa berada di atas awan. Berdasarkan penjelasan dari tur guide saya, makna filosofis dari putih itu adalah warna surga. Jembatan sebagai jalan masuk di White Temple diibaratkan seperti jalan ke surga. Di depan White Temple ada ilustrasi tangan orang-orang yang ceritanya jatuh ke neraka dan meminta pertolongan. Waw, serem juga ya hehe. Sayangnya pintu masuk Wat melaui  jembatan itu sedang ditutup dan saya tidak menemukan pintu masuk lain ke dalam Wat,  padahal saya pengen banget masuk ke Wat itu, yang katanya ada mural painting yang menceritakan bagaimana para hero dunia menumpas kejahatan. Overall, White Temple ini jadi tempat wajib kalau kita pergi ke Chiang Rai karena ini juga salah satu ikon Chiang Rai. Karena waktu yang terbatas, kami tidak bisa menikmati dan menjelajah setiap sudut Wat. Destinasi lain menanti kami hehe.

IMG20141006104605

Bagian depan Wat Rong Khun. Tangan-tangan tersebut menandakan jiwa-jiwa yang meminta pertolongan dari neraka

IMG_20141006_131335

Sudut-sudut di Wat Rong Khun

 Destinasi ketiga adalah destinasi yang liputannya sering saya liat di TV, suku berleher panjang. Dulu saya cuma bisa terbengong-bengong saja dan bertanya-tanya dimana tuh Chiang Rai, Alhamdulillah sekarang saya bisa melihatnya langsung. Kampung suku Karen terletak agak terpencil, sebenarnya masih banyak sih suku-suku lain yang berleher panjang, tapi yang paling terkenal adalah suku Karen, katanya sih karena mereka cantik-cantik hehe. Orang-orang dari suku tersebut berasal dari Myanmar atau China yang mengungsi karena suatu konflik.

IMG_20141006_125815

Gadis Karen yang terkenal cantik

Mungkin banyak yang bertanya-tanya kenapa leher mereka bisa panjang termasuk saya hehe. Kata tour guide saya, itu bukan lehernya yang memanjang tapi bahunya yang semakin turun, sehingga menimbulkan kesan leher memanjang . Menurut legenda, dulu ada wanita suku Karen yang tewas karena lehernya digigit harimau. Karena itu semua wanita suku Karen harus menggunakan itu, alasan lainnya katanya semakin panjang semakin cantik hehe. Waw, kalau saya tinggal disana mungkin saya gak laku kali ya hahaha.

IMG_20150326_125723

Nyoba-nyoba pake kalung besi-nya. Aduh susah juga ya ternyata 🙁

Mereka mulai mengenakan kalung di leher dari umur 5 tahun sampai mereka meninggal. Semua aktivitas mereka lakukan dengan menggunakan kalung itu, mulai dari mandi, makan, tidur . Waw, saya sih gak bisa membayangkan susahnya beraktifitas dengan kalung itu, mau noleh aja susah. Dan kalung itu berat sekali loh, saya coba taruh di kepala saja sudah bikin pusing haha. Kalau zaman dulu kalungnya terbuat dari emas tapi sekarang terbuat dari besi/tembaga yang berwarna emas, karena takut terjadi kejahatan terhadap wanita suku Karen.

Sampai saat ini penduduk suku Karen hidup dengan damai di bawah lindungan pemerintah Thailand, meskipun mereka tidak di akui secara resmi dan tidak memiliki kartu identitas warga Thailand. Karena itu mereka tidak bisa pergi sekoah, bekerja di luar desa dan lain sebagainya. Sekarang suku Karen hidup dari menenun kain dan dari tiket masuk yang kita bayar sebesar 300 baht. Sedangkan untuk lelaki suku Karen mereka bercocok tanam dan berburu. Kalau ingin baca review lengkap tentang suku Karen ini silahkan baca postingan khusus saya disini.

IMG20141006121251

Barang dagangan hasil karya wanita suku Karen

Sebelum kami melanjutkan perjalanan, tur guide kami yang pengertian sekali membawa kami ke tempat peristirahatan dan makan siang di tepi sungai Mekong. Mungkin dia melihat wajah kelaparan kami haha. Demi keamanan saya pilih vegetarian food yang sama sekali gak ada rasanya  T_T , untunglah ada sop jagung yang membantu memberi rasa gurih.

IMG_20141006_155404

Halal Food aka Vegetarian Food

 Setelah makan saya bertanya pada tur guide saya tempat shalat, dengan sedikit menyesal dia bilang tidak ada, tapi dia mau bantu mencarikan. Ah, we love you deh!! Akhirnya setelah mencari-cari , sang manager restaurant  yang juga gak kalah baiknya menawarkan ruang kerjanya. Managernya baik, ramah, dan lucu. Awalnya saya kira dia pelayan biasa, soalnya dia pakai kostum pelayan dan ikut hilir mudik melayani tamu-tamu. Keren deh pokoknya!! Ruang managernya terletak di depan restoran dan transparant, jadi waktu kami shalat diliatin bule-bule. Berasa jadi penghuni kebun binatang sih, udah ruangannya designnya kayu dan temanya hutan-hutan gitu, ditambah ada kaca transparant,  diliatin lagi,untung gak di foto haha. Cuek aja deh , Bismillah…..

Selesai break dan makan siang, sekarang saatnya kita cuss menyebrangi sungai Mekong menuju Laos. Thailand Utara berbatasan langsung dengan Laos dan Myanmar. Perbatasan ini dikenal dengan nama Golden Triangle. Dulunya tempat ini punya sejarah kelam karena menjadi pusat perdagangan Narkoba, karena merupakan daerah perbatasan tempat ini rawan sekali konflik dan sering dijadikan sebagai tempat pelarian para pengungsi dari China, Myanmar dsb. Oh ya, kalau kita menyusuri sungai Mekong, kita bisa sampai ke China loh, mungkin itulah kenapa saya lihat banyak orang China di Thailand dan hampir budaya di Thailand dipengaruhi budaya China karena letak geografisnya yang lumayan dekat. Sungai Mekong sendiri merupakan sungai terpanjang di Asia Tenggara, bahkan yang saya dengar kalau kita ke Vietnam kita juga masih bisa menyusuri sungai Mekong.

IMG_20150326_125441

Menuju Sungai Mekong

IMG_20150326_125251

Menyusuri sungai Mekong part 1

IMG_20150326_124852

Menyusuri sungai Mekong part 2

IMG_20150326_125043

Menyusuri sungai Mekong part 3

20141006_143324

Narsis di saat tur guide lagi ngasih penjelasan. Cuma orang Indonesia nih yang kaya gini. Jangan ditiru ya 🙁

Sesampainya di Golden Triangle, kami langsung di ajak untuk naik boat menyebrangi sungai Mekong menuju Laos. Biaya untuk menyebrang ini adalah 300 Baht atau sekitar 100 ribuan, ditambah dengan tiket masuk Laos 30 baht sekitar 10 ribuan. Sebenarnya kita bukan masuk Laosnya sih, cuma pulau kecil di perbatasan Laos-Thailand. Kalau mau lebih masuk lagi ya harus pake Visa dan di cap paspor. Di pulau ini kita bisa foto bersama papan dengan tulisan “Welcome Laos” kan lumayan keliatannya udah pernah ke Laos gitu hehe. Selain itu, kita juga bisa membeli oleh2 seperti kaos, gantungan kunci, tas-tas dengan merk Gucci, Prada, tapi palsu loh ya hihihi. Yang menarik dari Laos terutama bagi bule-bule adalah minum wishky, loh minum wishky kok menarik? Iya,  soalnya wishkynya ada campuran cicak, ular, atau kalajengkin yang diawetkan dan dimasukan ke dalam botol. Uwooow !! Seandainya saya pun boleh minum wishky, dibayar berjuta-juta pun saya masih mikir-mikir buat minumnya hehe.

IMG_20150326_124652

Welcome to Laos

IMG20141006145530

Berani minum?

IMG20141006145703

Shopping yuuuk :p

IMG_20150326_124410

Narsis dulu 😀

20141006_150023

Bule-nya juga ikutan narsis hihihi

20141006_145515

Bener-bener di setting belanja deh 😀

 Setelah puas keliling pulau, yang isinya cuma pasar doank, kami kembali menyebrang sungai Mekong untuk melanjutkan perjalanan menuju Mae Sai, border Myanmar-Thailand. Sayangnya kita gak bisa masuk ke Myanmar,  karena harus di cap paspor dan bayar 500 baht. Akhirnya kita cuma foto-foto aja di bordernya dan melihat Myanmar dari seberang hahaa.

IMG_20150326_124247

Bagian paling utara Thailand

IMG_20150326_124154

Myanmar dari sebrang

IMG_20150326_124114

Border Myanmar Thailand. Harus bayar 500 Baht kalau masuk sini :p

Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 saatnya kami pulang ke Chiang Mai, tour guide saya keliatannya udah capek karena matanya udah benjol gitu, tapi masih sempet kita ajak narsis haha. Perjalanan ke Chiang Mai menghabiskan waktu sekitar 3 jam-an dan sempat istirahat sebentar untuk ke toilet hehe. Di dalam mobil kami pulas semua, mungkin kecapekan ya hehe yang bertahan tinggal tour guide dan abang supir, saya sendiri mabok darat karena AC yang dingin dan lapar. Kalau kalian pake tur travel, lebih baik bawa snack cadangan deh buat ganjel perut.

Sesampainya di Chiang Mai, saya minta diturunin di Night Bazar karena mau cari makan dulu. Eh, akhirnya semua bule-bule ikut-ikutan turun di Night Bazar hehe. Karena malas keliling-keliling kami langsung makan di tempat makan Islam yang kami temui pertama kali, dia bilang semua tempat makan tutup dan cuma dia yang buka. Karena perut kami udah teriak-teriak plus kepala yang masih pusing habis perjalanan, kami langsung terima tawarannya. Begitu kami buka menuu, wawa mahalnyaaaa….Saya pilih menu sehemat mungkin, nasi putih dan sup jamur,  Vegetarian lagi deh  🙁 padahal niatnya mau cari Tom Yam Kung. Ya sudahlaah…

IMG_20150326_123945

Makaan…makan….

 Selesai makan kami,  muter pasar sebentar, tergoda beli dompet haha, pas muter lagi nemu tempat makan halal yang menyediakan menu Tom Yam Kung. Ya Allah…haha, beginilah akibatnya kalau terburu-buru hoho. Puas muter-muter kami langsung pulang ke hotel pakai song thew. Badan dan kaki udah minta dilurusin hehe. Sampai jumpa besok!!!

Keterangan Baht Rupiah
Tiket Travel 1250 475000
Breakfast di Hotspring 70 26600
Nyebrang Sungai Mekong 300 114000
Tiket Masuk Don Xao Laos 30 11400
Jajan + Ice Cream 52 19760
Makan di Restoran Nigh Bazaar 120 45600
Songthew 20 7600
Ganci Karen 133 50540
Kaos Golden Triangle 120 45600
Kaos Myanmar 300 114000
Dompet Night Bazaar 30 11400
Ganci Laos 60 22800
Total 2485 944300

Tips :
– Kalau punya banyak waktu cobalah menginap sehari di Chiang Rai sehingga punya banyak waktu untuk lebih mengeksplor kota Chiang Rai, White Temple dan Golden Triangle, juga bisa masuk ke museum Opium yang menceritakan sejarah masa lalu Golden Triangle.

-Kalau waktunya terbatas, saya sarankan memakai tour travel saja. Karena lebih menghemat waktu dan bisa mencakup semua.

6 Responses to “Cat-Per Backpacking Thailand #Part 3 : Sehari di Chiang Rai dan Laos”
  1. aminullah June 16, 2015
    • Nenk Phytlee June 22, 2015
  2. imewa March 4, 2016
    • Nenk Phytlee March 10, 2016
  3. Kuyih December 13, 2016
  4. Laode December 29, 2017

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.