Backpacking Indochina #Day 8 : Cerita Sedih Genosida dari Pnom Penh Part 2 (Killing Field)

Kunjungan ke negara Kamboja untuk yang pertama kali ini memang cukup berkesan sekaligus bikin hati meleleh. Setelah kami disuguhkan cerita pembantaian yang menyayat hati di Museum Genosida, kali ini hati kami tambah teriris-iris dengan mengunjungi Killing Field atau kalau dalam bahasa lokalnya Chong Euk. Dari namanya aja kita pasti udah bisa menebak kalau tempat ini gak kalah horror dari Museum Genosida. Killing Field atau yang saya artikan sebagai “lapangan pembunuhan” merupakan tempat pembunuhan massal warga Kamboja oleh rezim Pol Pot.

Killing Field terletak sekitar 15 km dari pusat kota, jalan menuju kesana sangat gersang dan berdebu. Ditambah lagi dengan lalu lintas yang semrawut, membuat kami cuma bisa geleng-geleng kepala. Begitu sampai di Killing Field, kami janjian dulu dengan abang tuk-tuk untuk menjemput kami sekitar 2 jam an lagi. Kami ingin memuaskan diri untuk berkeliling Killing Field yang kelihatannya sangat luas sekali. Kami membayar biaya masuk sebesar 6 USD, waw cukup mahal juga ya, tapi hal tersebut sebanding dengan fasilitas audio tour yang telah disediakan. Sayangnya tidak ada yang berbahasa Indonesia, pilihannya yang bisa saya ambil hanya bahasa Melayu atau Inggris. Setiap tempat penting di Killling Field ditandai oleh nomor, jadi kita tinggal mengikuti nomor-nomor tersebut sambil mendengarkan penjelasan dari audio tour.

Pintu masuk Killing Fields

Pintu masuk Killing Fields

Killing Field dulunya adalah areal perkuburan China seluas 2,5 hektar, namun pada saat Rezim Khmer Merah tempat ini berubah menjadi tempat membunuh dan kuburan masal bagi para korban pembantaian. Sebagian besar para korban tersebut berasal dari Penjara Tuol Sleng (Museum Genosida), sebagian lainnya berasal dari penjara-penjara kecil yang tersebar di Kamboja.

Fasilitas Audio Tour untuk mengelilingi museum

Fasilitas Audio Tour untuk mengelilingi museum

Sebelum memasuki situs Killing Field kita akan disambut oleh “Memorial Stupa” yang berdiri kokoh.Di dalam stupa ini terdapat lemari yang berjumlah 13 tingkat yang digunakan untuk menyimpan tengkorak-tengkorak para korban pembantaian yang tidak diketahui identitasnya. Rasanya saya lemas sekali melihat ratusan bahkan mungkin ribuan tengkorak yang dipajang di lemari ini.

Di depan Memorial Stupa, gak tau pose yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya :(

Di depan Memorial Stupa, gak tau pose yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya 🙁

Dari tengkorak-tengkorak tersebut kita bisa melihat bagaimana cara mereka dibunuh. Tengkorak yang bolong artinya mereka dibunuh dengan cara ditusuk dari atas, tengkorak yang retak artinya mereka dipukul oleh benda tumpul. Dalam lemari tersebut juga terdapat senjata yang digunakan untuk memukul tengkorak-tengkorak tersebut.

Lemari untuk menyimpan tengkorak

Lemari untuk menyimpan tengkorak

Cerita Sedih Genosida dari Pnom Penh Part 2

Tengkorak-tengkorak yang penuh bekas luka

Alat untuk melukai tengkorak tersebut

Alat untuk melukai tengkorak tersebut

Dari Memorial Stupa, saya beranjak menuju tempat tempat lain. Saya masih mendapati bekas-bekas galian tanah besar yang dulunya dipakai untuk kuburan massal. Dari kuburan inilah ditemukan bekas-bekas tulang, tengkorak, gigi, dan baju para korban. Setelah saya cermati ternyata masih ada beberapa tulang belulang yang masih berserakan dan belum diambil. Untuk menjaga keasliannya, pengunjung dilarang melewati bekas galian tersebut.

Suasana di areal Killing Field

Suasana di areal Killing Field

Dulu disinilah tempat pemberhentian truk yang mengangkut para tahanan yang akan di bunuh

Dulu disinilah tempat pemberhentian truk yang mengangkut para tahanan yang akan di bunuh

Salah satu bukti penggunaan bahan Kimia berbahaya oleh Pol Pot

Salah satu bukti penggunaan bahan Kimia berbahaya oleh Pol Pot

Perjalanan keliling Killing Field saya lanjutkan, saya sampai di sebuah pohon besar yang bertuliskan “Killing Tree Against Which Executioners Beat Children”. Pohon besar ini digunakan untuk membunuh bayi-bayi yang tidak berdosa. Cara membunuh bayi-bayi tersebut adalah dengan menghantamkan kepala dan tubuhnya ke dahan pohon besar sampai hancur. Selain itu cara lain membunuh para bayi tersebut adalah dengan melemparkan bayi tersebut ke atas dan kemudian di tusuk oleh bayonet. Informasi ini saya dapatkan dari lukisan yang saya lihat di Museum Genosida. Saat ini batang tersebut dipenuhi oleh gelang-gelang yang diberikan oleh pengunjung sebagai ungkapan simpati atas pembunuhan bayi-bayi tersebut.

The Killing Tree yang digunakan untuk membunuh para bayi

The Killing Tree yang digunakan untuk membunuh para bayi

Pohon ini digunakan untuk menggantung loudspeaker

Pohon ini digunakan untuk menggantung loudspeaker. Loudspeaker ini berfungsi untuk menyalakan musik/lagu keras-keras sehingga penduduk sekitar tidak mendengar jeritan para tahanan yang disiksa

Saya melanjutkan perjalanan keliling Killling Field lagi, masih banyak tempat-tempat penting yang menjadi saksi sejarah kekejaman Pol Pot. Saya melihat akuarium yang berisi baju-baju para korban pembantaian, tulang-tulang dan gigi-gigi yang berhasil di kumpulkan. Tanpa sadar sepanjang perjalanan keliling Killing Field saya menangis. Saya membayangkan rasa sakit dan rasa takut yang mereka hadapi saat itu. Terpisah dari keluarga, menyaksikan anggota keluarga disiksa dan dibunuh, merasakan sakit saat disiksa, sampai mengetahui bahwa sebentar lagi mereka akan menghadapi kematian. Dalam hati saya ikut mendoakan semoga arwah para korban tenang dan hal seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi. Amiiiiin.

Area yang kotak-kotak duluny adalah kuburan

Area yang kotak-kotak dulunya adalah kuburan

Baju-baju para tahanan

Baju-baju para tahanan

Salah satu tempat ditemukannya tulang belulang para korban

Salah satu tempat ditemukannya tulang belulang para korban

Beberapa tulang belulang korban yang berhasil ditemukan

Beberapa tulang belulang korban yang berhasil ditemukan

Selesai berkeliling di Killing Filled, kami melanjutkan perjalanan menuju Russian Market. Suasana di atas tuk tuk syahdu sekali, selama beberapa menit kami terdiam menikmati pemandangan jalan Kamboja yang semrawut. Mungkin kami sama-sama merenung tentang pembantaian yang terjadi di Kamboja. Sampai akhirnya teman saya mulai mengajak ngobrol, kami pun akhirnya berdiskusi bareng. Topiknya tentu saja tidak jauh-jauh dari Pol Pot dan pembantaian.

Memorial stupa dari belakang

Memorial stupa dari belakang

Kami asyik berdiskusi sampai tidak sadar kalau sudah sampai di Russian Market. Melihat pasar dan segudang barang-barang cantik, kami jadi semangat lagi. Mungkin sekarang saatnya mengobati diri dari depresi setelah berkunjung ke Museum Genosida dan Killing Field tadi hihihi. Russian Market merupakan salah satu pasar di Pnom Penh yang terkenal murah, Ternyata gossip itu benar hihihi, saya sampai memborong banyak oleh-oleh dari Russian Market. Harga di Russian Market jauh lebih murah dari Siem Reap. Jadi kalau kalian berencana main ke Pnom Penh dan Siam Reap, mending belanja di Pnom Penh aja, dijamin lebih murah dan lengkap ^^

Welcome Shopping!! ^^

Welcome Shopping!! ^^

Puas belanja, kami pun memutuskan untuk pulang, istirahat dan beres-beres, karena besoknya akan melanjutkan perjalanan ke Ho Chi Minh, Vietnam. Eh ternyata bukan cuma kami saja yang borong belanjaan, Abang Afifi juga borong belanjaan lebih banyak dari kami haha. Sampai jumpa di Ho Chi Minh besok !!!

Keterangan USD IDR
Sarapan di KFC 2 26000
Sewa Tuk-tuk 5.3 68900
Tiket masuk museum Genosida 3 39000
Beli buku panduan 3 39000
Beli minum 3 39000
Tiket masuk Killing Field 6 78000
Belanja di Russian Market 6 78000
Beli Es Kopi 0.5 6500
Total 28.8 374400

Kurs 1 USD = IDR 13.000

10 Responses to “Backpacking Indochina #Day 8 : Cerita Sedih Genosida dari Pnom Penh Part 2 (Killing Field)”
  1. Anggun Anggraini December 3, 2015
  2. ardi March 19, 2016
    • Nenk Phytlee March 20, 2016
      • Ardi March 21, 2016
        • Nenk Phytlee March 22, 2016
          • Ardi March 23, 2016
          • Nenk Phytlee March 28, 2016
  3. Ardi March 29, 2016
    • Nenk Phytlee March 31, 2016

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.