Backpacking Indochina #Day 8 : Cerita Sedih Genosida dari Pnom Penh part 1

Ruang kelas yang dijadikan tempat penyiksaan

Ruang kelas yang dijadikan tempat penyiksaan

Hari ke-8 kami backpacking dan masih di kota Pnom Penh. Pagi-pagi sekitar jam 9 an kami keluar cari sarapan ke KFC, belum tahu tempat makan yang halal dan murah sih hihi. Jam 10 kami janjian sama abang Malaysia buat jalan bareng. Oh ya namanya abang Afifi, tak kenal maka tak sayang katanya. Rencananya kami mau nyewa tuk-tuk bareng buat keliling kota Pnom Penh. Tujuan kami hari itu Museum Genosida Tuol Sleng  dan Killing Field.

Cerita Sedih Genosida dari Pnom Penh

Habis makan dari KFC narsis dulu aaah 😀

Saya semangat banget mau pergi ke 2 tempat itu, entah kenapa saya tertarik sama hal-hal yang berbau pembantaian dan kesuraman *lirik sadis* tapi mudah-mudah an bukan gelaja psikopat yah aha. Pertama kali saya tahu tentang Killing Field dari buku Toto Chan yang kedua dan saya langsung penasaran banget sama tempat itu. Jadi cerita kali ini mungkin bakal agak panjang ya soalnya ini salah satu cerita yang berkesan buat saya 😀

Jam 10 kurang kami udah ketemuan sama Abang Afifi dan langsung cari tuktuk buat bawa kami keliling Pnom Penh. Supir tuk-tuk menawarkan kami keliling 3 tempat ( Museum Genosida Tuol Sleng, Killing Field dan Royal Palace) dengan harga US$ 20 atau sekitar Rp. 260.000. Awalnya saya setuju-setuju aja, tapi Abang Afifi langsung nawar dengan harga 15 US$ ( sekitar Rp. 195.000) ke 3 tempat ( Museum Genosida, Killing Field, dan Russian Market). Kata Abang Afifi, Royal Palace mah deket jalan juga bisa. Wah, saya malah baru tahu, akhirnya saya manut aja deh hehe. Kami adu tawar cukup lama, abang tuk-tuk ngotot dengan harga  US$ 20, alasannya Museum Genosida, Killing Field dan Russian Market berjauhan. Abang Afifi juga ngotot dengan harga  US$ 15 biar dapet harga murah hihi. Akhirnya kami sepakat dengan harga US$ 16 ( sekitar  208.000). Yes kami menang hahaha. Kasian juga sih sama abang tuk-tuk nya, yah tapi kan kami backpacker kere hihi.

Duh gara-gara ditawar habis-habis an kita jadi nungguin lama deh -_-

Duh gara-gara ditawar habis-habis an kita jadi nungguin lama deh -_-

Perjalanan kami mulai juga, udara panas dan berdebu menyerang kami. Buat yang mau main ke Kamboja jangan lupa sedia masker dan kacamata item, debunya gak nguatin banget. Kecuali tahan kelilipan. Tujuan pertama kami adalah Museum Genosida, jujur nih saya agak takut soalnya banyak baca dari blog serem gitu. Niat saya awalnya mau ke Museum Genosida kalau udah punya suami, soalnya biar ada yang bisa di tarik-tarik kalau takut *bukan modus* hihi.  Eh untungnya temen saya yang namanya Cinca Camilla Belle ini mau diajak kesini soalnya dia gak tahu kalau ini Museum penyiksaan hahaha :D. Maaf kan aku kawan :p

Kami sampai juga di museum nya. Kami bayar tiket dulu dengan harga US$ 3 ( Rp. 39.000 ), ada guide tapi harus bayar sendiri dan mahal tentunya. Sekarang saatnya kita menjelajah Museum Genosida yang bikin saya penasaran. Sekedar informasi awal, dulunya museum ini adalah sekolah tapi pada rezim Pol Pot sekolah ini dirubah jadi tempat pembantaian. Semua orang intelektual seperti dokter, guru, sarjana, akademisi, dan orang-orang yang kelihatannya bisa melawan Pol Pot dibawa kesini dan disiksa sebelum dibunuh.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Welcome !!

tiket masuk museum genosida

Ini dia tiketnya. Perjalanan di mulai 😀

Museum ini terdiri dari 4 gedung dan memang bentuknya sekolah banget, dengan lapangan di tengahnya. Di dalam gedung terdapat alat-alat bekas penyiksaan, foto-foto para korban dan penjelasan bagaimana para tahanan disiksa. Penyiksaannya macem-macem, ada yang di cabutin kukunya terus disiram alcohol, ada yang kepalanya di celupin ke tong air sampai gak sadarkan diri, ada yang kepalanya di bor. Pokoknya macem-macem deh, saya sendiri gak tega bayanginnya.

Ruang kelas yang dijadikan tempat penyiksaan

Ruang kelas yang dijadikan tempat penyiksaan

Peraturan yang ada di dalam penjara Tuol Sleng *abaikan makhluk berbaju pink*

Peraturan yang ada di dalam penjara Tuol Sleng *abaikan makhluk berbaju pink*

Kehidupan para tahanan pun sangat menyedihkan, mereka Cuma dikasih makan sehari 2x dan itupun Cuma bubur. Mereka ditahan dalam satu ruangan beramai-ramai gak boleh keluar, makan, buang air kecil, buang air besar semua disitu. Mandi pun cuma pakai air yang disalurkan lewat selang dari jendela. Para tahanan gak boleh ketawa, bersuara, berbisik-bisik, termasuk saat mereka disiksa. Sesakit apapun mereka gak boleh teriak, bersuara, dan menangis. Parahnya lagi bukan cuma orang dewasa yang disiksa, bahkan anak kecil dan bayi pun ikut jadi korbannya. Astaghfirullah….

Nomer dalam ruangan ini adalah nomer tempat tidur para tahanan :(

Nomer dalam ruangan ini adalah nomer tempat tidur para tahanan 🙁

Alat-alat penyiksaan yang tetap disimpan

Alat-alat penyiksaan yang tetap disimpan

 

Foto-foto para tahanan sebelum di bunuh

Foto-foto para tahanan sebelum di bunuh

Dari semua gedung, gedung yang paling berkesan buat saya adalah gedung C. Di gedung ini terdapat sel-sel penjara yang dibuat seadanya yang berbahan batu bata dan kayu. Saat itu saya masuk sel sendirian, teman saya si Camilla Belle udah gak kuat lagi buat masuk ke dalem. Akhirnya dia cuma duduk manis nunggu saya di luar. Yah, sama aja dong padahal saya minta temenin -_- . Waktu saya berkeliling di sel penjara yang terbuat dari batu bata, bau amis menyeruak. “Kok kaya bau darah ya” saya pikir begitu. Sempet takut karena saya agak phobia sama darah, tapi saya tetep positif thinking aja dan lanjut keliling. Rasa penasaran mengalahkan rasa takut saya waktu itu.

Sel dari batu bata yang dibangun di dalam kelas. Baunya amis banget :(

Sel dari batu bata yang dibangun di dalam kelas. Baunya amis banget 🙁

Iseng-iseng saya tengok-tengok ke dalam sel, masih ada rantai-rantai bekas mengikat para tahanan. Saya masih lanjut berkeliling, sampai saya tiba di satu sel yang baunya amis banget, ketika saya lihat ke lantai, ya ampuun masih ada bercak darahnya disitu!! Sudah mengering dan kecoklatan, gak banyak sih tapi cukup bikin saya mendadak mual. Nyesel banget ke museum ini gak pake masker. Sambil nahan muntah saya sempet-sempetin foto bercak darah itu. Habis itu saya langsung ngacir keluar dan muntah-muntah. Temen saya yang lagi nunggu di luar Tanya kenapa saya bisa muntah-muntah. Meluncurlah cerita bercak darah itu dari mulut saya yang masih mau muntah. “Oh pantes bule yang baru keluar tadi juga muntah-muntah kok disana” katanya datar. Hadeh -_-

Sisa darah yang saya lihat di lantai

Sisa darah yang saya lihat di lantai

Selesai melewati sel yang bikin saya mual dan muntah, saya lanjut lagi ke lantai atas. Masih dengan tipe single cell tapi kalau yang lantai atas terbuat dari kayu, jadi gak terlalu bau. Alhamdulillah, saya udah gak kuat muntah lagi. Lanjut ke gedung berikutnya, isinya masih foto-foto korban penyiksaan dan kumpulan beberapa tengkorak hiiiiy…juga ada beberapa cerita orang yang masih bertahan hidup. Dari masa rezim Pol Pot, hanya ada 7 orang yang selamat dari penyiksaan. Waktu itu mereka masih kecil. Nah di gedung ini lah diceritakan kenapa mereka bisa sampai selamat dari penyiksaan.

Salah satu bangunan penjara

Salah satu bangunan penjara

Bangunannya dipagari kawat besi agar tahanan tidak kabur

Bangunannya dipagari kawat besi agar tahanan tidak kabur

Puas keliling-keliling kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Killing Field. Kebetulan waktu sudah menunjukkan jam  12.00. Kami janjian dengan abang tuk-tuk untuk pergi ke Killing Field jam segitu. Ketika kami menuju pintu keluar, teman saya, Cinca Camilla Belle, minta buat foto di depan papan peraturan. Tiba-tiba ada sekelompok turis yang rame banget, ketawa-tawa gak jelas. Awalnya kami kira turis China, karena dari tadi mereka berisik aje sampai diliatin turis bule lainnya. Begitu kami liat lagi ternyata ada yang ngomong gini :” Eh gue dong, gue foto disini. Cepetan mumpung gak ada orang” sambil ketawa-tawa dan teriak. OMG, turis Indonesia!! Dan langsung aja mereka dapet perhatian bule-bule lain. Saya dan Cinca Camilla Belle mendadak maluuu banget. Please deh Mbak, ini tuh museum pembantaian bukan mall. Hadeuh -_-

*cerita di Killing Field nya bersambung yah ^^

Silahkan baca Lanjutannya Disini

Sending
User Review
0 (0 votes)
2 Responses to “Backpacking Indochina #Day 8 : Cerita Sedih Genosida dari Pnom Penh part 1”
  1. Ishlah Fata October 14, 2015
    • Nenk Phytlee October 15, 2015

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.